Tampilkan postingan dengan label bertani organik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bertani organik. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 23 Juni 2012

pupuk organik


  PUPUK ORGANIK KOTORAN HEWAN (KOHE)
Peranan Pupuk Organik :
Lahan pertanian memerlukan pupuk organik untuk mempertahanan kesehatan tanah serta kecukupan unsur hara tanaman. Berkurangnya kandungan bahan organik pada lahan pertanian di Indonesia memerlukan tidak kurang dari 2 kali lipat tambahan bahan organik untuk mengembalikan pada kesehatan tanah yang normal. Dilain pihak, ternak ruminantsia memberikn peluang yang besar untuk menghasilkan kotoran yang dapat dip roses menjadi pupuk organik.
 Bangunan Pemrosesan Pupuk Organik
Pembuatan pupuk organiK memerlukan bangunan dengan ukuran 4x10m untuk kapasitas 5ton per bulan. Dasar bangunan di buat dari beton/semen-bata dengan kemiringan lantai sekitar 15 ysang berfungsi untuk mencegah adanya air yang tergenang.
Bangunan ini tidak mendapatkan panas langsung dari sinar matahari dan harus terlindungi dari hujan.
 Cara Pembuatan Pupuk Organik :
Kotoran ternak di kumoulkan melalui system penampunagn dari kandang dengan model pemeliharaan ternak secara kereman. Lantai kandang dialasi dengan serbuk gergaji dan kotoran ternak (feses dan urin) tidak dikeluarkan dari dalam kandang selama 1 bulan. Kotoran tersebut di campur dengan Probiotiuk sebanyak 2,5 kg; 3,5 kg urea dan 2,5 kg TSP untuk setiap 1 ton bahan pupuk organik. Bahan-bahan tersebut di tumpuk dengan ketinggian sekitar 1,5m; dan di diamkan selam 1 bulsn setelah melalui proses pembalikan setiap minggu sekali. Untuk memperoleh partikel pupuk organik yang relatif sama, maka perlu dilakukan pengeringan dengan sinar matahari, kemudian di giling dan dilanjutkan dengan penyarinagn secara fisik. 
 Tabel. Kandungan Hara pada masing-masing kotoran hewan:
Komponen
Pupuk
(Sapi)
Pupuk
(Sapi MH)
Pupuk
(Domba)
Pupuk
(Kambing)
P  (%)
K (%)
Na (%)
Ca (%)
Mg (%)
S (%)
Fe (ppm)
Mn (ppm)
Cu (ppm)
Zn (ppm)
B (ppm)
Nitrogen (%)
Carbon (%)
N organik (%)
KCI (%)
KYK pH 7
C/N
0,57
0,79
0,08
1,4
0,32
0,55
2400
303
13
160
31
1,73
13,50
1,07
7,48
22,56
12,62
0.87
2,62
0,16
0,75
0,52
0,27
2104
955
14
218
18
1,55
17,90
1,19
7,15
28,46
15,04
0,91
2,01
0,17
1,39
0,69
0,32
2602
270
18
470
35
1,72
19,03
1,3
8,02
21,54
14,42
0.96
1,69
0,21
1.27
0,65
0,30
3371
265
16
463
22
1,24
13,68
1,0
7,73
24,36
13,68

Kamis, 01 Desember 2011

Nutrisi Cangkang telur


Nutrisi Cangkang telur
Bahan-bahan :
  1. Cangkang telur 1 kg
  2. 3 liter cuka
Masa fermentasi 7 hari.
Untuk penyimpanan setelah 7 hari, ampas di saring, agar tidak menguap, dan nutrisi yg tersisa tidak terbuang.
Dosis : 1 sendok makan per 5 liter air.
Fungsinya :
-          Mengangkat sisa makanan atau nutrisi dari batang dan daun ke buah.
-          Membernaskan buah atau padi
-          Menambah berat buah padi
Cara pemakaian :
Sebelum padi bertunas, atau setelah bunga padi berguguran. 

Nutrisi Tulang (KCL) kalium


Nutrisi Tulang (KCL) kalium

Bahan-bahan :
  1. 1 kg tulang tanpa lemak
  2. 3 liter cuka makan
Alat-alat :
  1. Belanga yang terbuat dari tanah
  2. Sendok penggongseng dari kayu
Cara pembuatan :
            Tulang di potong-potong lalu di gongseng sampai kecoklatan, tidak boleh sampai hangus, karena akan mengurangi kandungan nutrisi yang terdapat di dalam tulang. Dinginkan lalu masukkan ke dalam stoples yang telah berisi cuka, tunggu hasil fermentasi selama 7 hari.
Ciri-ciri :
Tumbuh jamur putih di permukaan cairan tulang
Cara pemakaian :
Semprotkan secara merata di atas tanah yang akan di olah.
            Nutrisi tulang untuk unsur K bisa diganti dengan sabut kelapa yang belum terkena air hujan.
Caranya :
Sabut kelapa di masukkan kedalam wadah dari bahan plastik dengan komposisi

Masa fermentasi 7 hari, dosis pemakaian 1 liter air fermentasi di tambahkan ke dalam 15 liter air biasa. Di semprotkan merata ke seluruh permukaan tanah. 
  1. 1 kg tulang tanpa lemak
  2. 3 liter cuka makan
Alat-alat :
  1. Belanga yang terbuat dari tanah
  2. Sendok penggongseng dari kayu
Cara pembuatan :
            Tulang di potong-potong lalu di gongseng sampai kecoklatan, tidak boleh sampai hangus, karena akan mengurangi kandungan nutrisi yang terdapat di dalam tulang. Dinginkan lalu masukkan ke dalam stoples yang telah berisi cuka, tunggu hasil fermentasi selama 7 hari.
Ciri-ciri :
Tumbuh jamur putih di permukaan cairan tulang
Cara pemakaian :
Semprotkan secara merata di atas tanah yang akan di olah.
            Nutrisi tulang untuk unsur K bisa diganti dengan sabut kelapa yang belum terkena air hujan.
Caranya :
Sabut kelapa di masukkan kedalam wadah dari bahan plastik dengan komposisi

Masa fermentasi 7 hari, dosis pemakaian 1 liter air fermentasi di tambahkan ke dalam 15 liter air biasa. Di semprotkan merata ke seluruh permukaan tanah. 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...